Jejak Syukur

Papandayan & Cipanas Garut

Mendaki pelan bertujuh, lalu meluruskan kaki di air panas Cipanas.

Tanggal
Durasi
3 hari
Wilayah
Jawa Barat
Rombongan
7 orang
Kabut tipis menutupi kawah Papandayan pada pagi hari

Rencananya sederhana: berangkat Jumat sore, bermalam di Pondok Saladah, turun Sabtu siang, lalu menginap satu malam di Cipanas sebelum pulang. Di atas kertas hanya dua hari. Dalam praktiknya, dua hari itu terasa jauh lebih panjang — dalam arti yang baik.

Berangkat dengan formasi lengkap

Ini kali pertama kami mendaki bertujuh sekaligus. Sebelumnya selalu ada yang ditinggal di rumah bersama nenek, biasanya yang paling kecil. Tahun ini Sakinah sudah tiga tahun dan, menurut ibunya, sudah cukup kuat untuk digendong naik-turun jalur pendek.

Pembagian tugas kami tetapkan sejak di parkiran:

  • Ayah membawa carrier besar berisi tenda dan air.
  • Ibu membawa Sakinah plus tas kecil berisi obat dan camilan.
  • Aisyah dan Hafiz membawa daypack masing-masing.
  • Naila dan Zaid hanya membawa botol minum dan satu tugas: berjalan di depan, supaya kecepatan rombongan mengikuti kaki terpendek.

Aturan terakhir itu yang paling menyelamatkan perjalanan ini. Begitu yang paling kecil berada di depan, tidak ada lagi yang tertinggal, dan tidak ada lagi yang diteriaki supaya mempercepat langkah.

Bau belerang dan pertanyaan yang tidak bisa dijawab

Kawah Papandayan menyambut dengan bau sebelum pemandangan. Anak-anak menutup hidung, sebentar mengeluh, lalu lupa sama sekali karena terlalu sibuk memperhatikan uap putih yang menyembur dari celah-celah batu kuning.

Naila bertanya kenapa airnya bisa mendidih padahal tidak ada yang menyalakan api. Saya menjelaskan sebisanya soal panas bumi, magma, dan batuan. Ia mendengarkan, mengangguk, lalu bertanya lagi: kalau begitu, siapa yang menyalakan api di bawah tanah?

Catatan syukur

Saya tidak punya jawaban yang memuaskan untuk anak delapan tahun. Yang saya punya hanya rasa kecil di dada — bahwa ada banyak hal berjalan tanpa perlu diurus oleh manusia, dan kami cukup diberi kesempatan untuk melihatnya.

Malam di Pondok Saladah

Kami sampai di Pondok Saladah menjelang gelap. Tenda berdiri dalam dua puluh menit — rekor, karena Aisyah dan Hafiz sekarang sudah hafal urutan pasak.

Malam itu suhu turun jauh lebih cepat dari perkiraan. Sleeping bag yang kami bawa kurang satu, jadi Zaid dan Naila berbagi. Tidak ada yang protes. Justru dari dalam tenda terdengar mereka berdua tertawa sampai larut karena Zaid menemukan bahwa napasnya berasap kalau disorot senter.

Pagi harinya, embun membeku tipis di flysheet. Kami sarapan bubur instan sambil melihat kabut naik pelan dari lembah, menutupi tenda-tenda lain satu per satu seperti selimut yang ditarik ke atas.

Keputusan di Hutan Mati

Dari Pondok Saladah, Tegal Alun tinggal satu tanjakan panjang. Kami sempat berjalan sampai Hutan Mati — hamparan batang cemara hitam yang berdiri kaku, sisa erupsi bertahun-tahun lalu.

Di sana Zaid mulai diam. Bukan menangis, hanya diam, dan langkahnya jadi berat. Untuk anak enam tahun, itu tanda yang cukup jelas.

Kami duduk melingkar, minum, lalu memutuskan berbalik. Aisyah sempat kecewa — ia sudah membayangkan padang edelweis — tapi lima menit kemudian ia sendiri yang menggandeng adiknya turun.

Puncak akan tetap di sana tahun depan. Adikmu yang tidak akan berumur enam tahun dua kali.

Turun ke air panas

Perjalanan turun selalu lebih cepat dan lebih berisiko. Sepatu Naila sempat selip dua kali di batu pasir. Kami sampai di Camp David pukul satu siang dengan celana penuh debu vulkanik.

Satu setengah jam kemudian, kami sudah berada di Cipanas. Hotelnya sederhana, bukan yang paling bagus di deretan itu, tapi punya satu hal yang kami butuhkan: kolam air panas kecil di halaman belakang yang bisa dipakai keluarga sendirian.

Anak-anak masuk kolam sebelum tas diturunkan dari mobil. Mereka bertahan di sana hampir dua jam, sampai jari-jari mengkerut dan azan magrib terdengar dari masjid seberang jalan.

Malam itu semua tidur lebih cepat dari biasanya. Tidak ada yang minta menonton, tidak ada yang minta camilan tambahan. Hanya tujuh orang yang kelelahan dengan cara yang menyenangkan.

Penutup perjalanan

Hikmah & Syukur

  1. 01

    Tujuh pasang kaki, semuanya pulang utuh

    Sepanjang jalur turun saya menghitung berulang-ulang: satu, dua, tiga, empat, lima, ditambah ibunya. Kebiasaan yang mungkin berlebihan, tapi setiap kali hitungannya genap, ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Sehat dan lengkap ternyata bukan hal kecil.

  2. 02

    Berani berhenti sebelum puncak

    Kami sudah dekat ke Tegal Alun ketika Zaid mulai diam dan langkahnya berat. Dulu saya mungkin memaksa sedikit lagi. Kali ini kami berbalik, dan tidak ada yang merasa gagal. Anak-anak justru belajar bahwa berhenti tepat waktu juga sebuah keputusan yang benar.

  3. 03

    Air panas yang sudah menunggu sejak dulu

    Sumber air panas Cipanas mengalir jauh sebelum kami lahir, dan akan terus mengalir setelah kami tidak lagi ke sini. Malam itu, sambil melihat lima kepala mengapung di kolam sambil tertawa, terasa jelas bahwa kami hanya menumpang menikmati sesuatu yang tidak kami buat sendiri.

Galeri

Anak-anak berjalan beriringan di jalur berbatu menuju kawah
Jalur berbatu selepas Camp David, sekitar pukul empat sore.
Tenda keluarga berdiri di tepi padang Pondok Saladah saat senja
Tenda didirikan agak menjauh dari keramaian.
Batang cemara menghitam di kawasan Hutan Mati
Hutan Mati — titik terjauh kami di perjalanan ini.
Kolam air panas di halaman belakang penginapan Cipanas pada malam hari
Malam terakhir, kaki akhirnya diistirahatkan.

Perjalanan lainnya

Perahu kayu bersandar di pasir putih Pulau Tabuhan dengan air laut jernih

Jawa Timur · 4 hari

East Java: Banyuwangi, Ijen & Pulau Tabuhan

Perjalanan terjauh kami sejauh ini. Naik kereta semalaman, mendaki Ijen dengan formasi terbelah, lalu menyeberang ke pulau kecil yang hampir kosong.