Pelan itu boleh
Dengan lima anak, kami tidak pernah mengejar target puncak atau daftar tempat. Satu tempat sehari sudah cukup. Yang penting semua sampai dan semua senang.
Tentang kami
Kami mulai menulis di sini setelah menyadari satu hal sederhana: foto-foto perjalanan menumpuk di ponsel, tapi ceritanya perlahan hilang. Anak yang dulu digendong sampai puncak sekarang sudah berjalan sendiri, dan tidak ada yang mencatat kapan tepatnya itu berubah.
Maka setiap pulang, kami menyisihkan satu malam untuk menulis. Bukan ulasan hotel, bukan panduan wisata — meski informasi praktisnya tetap kami sertakan supaya berguna. Yang kami kejar adalah bagian yang biasanya hilang: rasa lelah di tanjakan terakhir, bau belerang yang menempel di jaket, suara anak bungsu yang bertanya kenapa awan bisa berada di bawah kaki kita.
Nama “Jejak Syukur” dipilih anak-anak. Menurut mereka, setiap tempat meninggalkan jejak di kaki, dan setiap jejak sebaiknya ditutup dengan terima kasih. Karena itu tiap catatan perjalanan di web ini selalu berakhir di bagian yang sama: Hikmah & Syukur.
Prinsip
Dengan lima anak, kami tidak pernah mengejar target puncak atau daftar tempat. Satu tempat sehari sudah cukup. Yang penting semua sampai dan semua senang.
Sebelum berangkat, kami duduk bersama membuka peta. Mereka memilih satu hal yang ingin dilihat, dan itu masuk daftar — sekecil apa pun.
Sampah dibawa turun, tidak memetik apa pun, tidak berisik di tempat orang beribadah atau bekerja. Aturan yang paling sering diingatkan anak-anak sendiri.
Kalau hujan dan gagal naik, ya kami tulis gagal. Kalau ada yang menangis di jalan, itu juga bagian dari perjalanan.
Kami senang menerima usulan rute, terutama yang ramah untuk rombongan dengan anak kecil.
Kirim pesan