Jejak Syukur

East Java: Banyuwangi, Ijen & Pulau Tabuhan

Ujung timur Jawa dalam empat hari — api biru, laut sebening kolam, dan kereta malam yang panjang.

Tanggal
Durasi
4 hari
Wilayah
Jawa Timur
Rombongan
7 orang
Perahu kayu bersandar di pasir putih Pulau Tabuhan dengan air laut jernih

Banyuwangi adalah perjalanan terjauh kami sejauh ini — bukan karena jaraknya paling ekstrem, tapi karena ini pertama kalinya kami membawa lima anak naik kereta semalaman, lalu langsung menjalani rencana yang cukup padat begitu tiba.

Kereta malam sebagai bagian dari liburan

Kami sengaja memilih kereta ketimbang pesawat. Alasannya praktis: tujuh tiket kereta jauh lebih ringan di anggaran, dan anak-anak bisa berdiri, berjalan, serta tidur berbaring tanpa harus meminta izin siapa pun.

Yang tidak kami duga, perjalanan keretanya sendiri jadi salah satu bagian yang paling diingat. Zaid menghabiskan satu jam penuh di jendela menghitung stasiun kecil yang dilewati tanpa berhenti. Sakinah tidur di pangkuan ibunya sejak Cirebon sampai hampir Jember.

Bekal kami siapkan dari rumah untuk dua kali makan. Sisanya dibeli di stasiun transit — bagian yang justru paling ditunggu anak-anak.

Ijen: rombongan yang sengaja dibelah

Ini keputusan yang kami diskusikan berminggu-minggu sebelum berangkat. Jalur Ijen sepanjang tiga kilometer dengan tanjakan konstan, ditempuh dalam gelap, dengan risiko asap belerang yang bisa berubah arah kapan saja.

Kesimpulannya jelas: tidak semua ikut.

  • Naik: Ayah, Aisyah (12), Hafiz (10). Ketiganya memakai masker respirator yang disewa di pos, bukan masker kain.
  • Menunggu di Paltuding: Ibu, Naila, Zaid, dan Sakinah, di warung dekat pos yang buka sejak dini hari.

Kami berangkat pukul dua pagi bersama arus pendaki lain. Jalurnya lebar tapi menanjak terus-menerus. Aisyah beberapa kali berhenti, tidak mengeluh, hanya mengatur napas seperti yang diajarkan.

Api biru muncul di bawah bibir kawah, jauh lebih kecil dari yang ada di foto-foto internet. Kami hanya sempat melihatnya sekitar dua puluh menit sebelum langit mulai biru dan warnanya menghilang.

Catatan syukur

Yang paling membekas justru bukan apinya, melainkan para penambang belerang yang berpapasan dengan kami sambil memikul keranjang berisi puluhan kilogram. Mereka menempuh jalur yang sama, dua kali sehari, setiap hari — sementara kami menempuhnya sekali dan menyebutnya liburan.

Saat turun, kami bertemu ibu dan tiga anak yang lain di warung. Mereka ternyata punya cerita sendiri: pemilik warung mengizinkan Naila membantu menuang kopi, dan Zaid mendapat pisang goreng gratis karena bersedia menyapu daun di depan.

Pulau Tabuhan: satu hari tanpa sinyal

Hari ketiga kami menyeberang dari Pantai Kampe menggunakan perahu kayu. Tiga puluh menit menembus selat yang cukup berombak, dengan pelampung dipakai semua orang tanpa kecuali.

Pulau Tabuhan kecil — bisa dikelilingi berjalan kaki dalam waktu kurang dari setengah jam. Tidak ada penghuni, tidak ada warung, tidak ada sinyal. Air, bekal, dan payung harus dibawa sendiri.

Beberapa catatan praktis untuk keluarga yang ingin ke sana:

  1. Sepakati jam jemput dengan pemilik perahu sebelum turun, dan pegang nomornya.
  2. Bawa air minimal dua kali lipat dari perkiraan; tidak ada tempat membeli.
  3. Tidak ada tempat berteduh permanen — payung atau tenda kecil sangat membantu.
  4. Bawa pulang seluruh sampah. Pulau ini bersih karena orang-orang sebelumnya melakukan hal yang sama.

Anak-anak menghabiskan waktu membangun benteng pasir yang berkali-kali dihancurkan ombak. Menjelang sore, ketika semua sudah lelah, kami berbaring di bawah pohon dan mengobrol tanpa arah. Tidak ada yang memeriksa ponsel karena memang tidak ada yang bisa diperiksa.

Pulang lewat sawah dan patung penari

Sebelum kembali ke stasiun, kami singgah di Taman Gandrung Terakota. Ratusan patung penari berdiri di sawah bertingkat, menghadap ke arah Ijen — gunung yang dua hari sebelumnya kami daki dalam gelap.

Aisyah berdiri lama di situ dan berkata bahwa rasanya aneh melihat gunung dari jauh setelah pernah berdiri di atasnya. Saya rasa itu kalimat penutup yang lebih baik daripada apa pun yang bisa saya tulis sendiri.

Penutup perjalanan

Hikmah & Syukur

  1. 01

    Perjalanan yang tidak harus dinikmati bersama-sama

    Di Paltuding kami sepakat berpisah: ayah naik bersama Aisyah dan Hafiz, ibu menunggu bersama tiga yang kecil di warung dekat pos. Sempat ada rasa bersalah meninggalkan sebagian rombongan. Tapi ternyata ibu punya paginya sendiri — menghangatkan tangan di depan tungku sambil mendengar cerita penambang belerang. Nikmat tidak selalu harus dibagi rata dalam bentuk yang sama.

  2. 02

    Melihat api biru sekali seumur hidup pun cukup

    Api biru itu tidak seperti di foto. Lebih kecil, lebih tersembunyi, dan hanya muncul di sela batu. Justru karena sulit dilihat, ia terasa seperti sesuatu yang dipinjamkan sebentar. Hafiz berbisik bahwa ia tidak akan lupa. Saya juga tidak.

  3. 03

    Satu hari tanpa sinyal

    Di Pulau Tabuhan tidak ada sinyal sama sekali. Awalnya terasa seperti kehilangan; menjelang sore terasa seperti dikembalikan sesuatu. Anak-anak membangun benteng pasir sampai bosan, lalu berbaring di bawah pohon dan bercerita tanpa tujuan. Percakapan paling panjang yang pernah kami punya sebagai keluarga terjadi di pulau yang tidak ada penghuninya.

Galeri

Peron Stasiun Ketapang pada pagi hari dengan latar Selat Bali
Pagi pertama, turun dari kereta di Ketapang.
Cahaya senter para pendaki menyusuri jalur menuju Kawah Ijen dalam gelap
Jalur menuju kawah, sekitar pukul tiga dini hari.
Danau kawah Ijen berwarna toska dilihat dari bibir kawah saat matahari terbit
Warna kawah setelah langit terang.
Anak-anak bermain di tepi air jernih Pulau Tabuhan
Satu hari penuh tanpa sinyal di Pulau Tabuhan.

Perjalanan lainnya

Kabut tipis menutupi kawah Papandayan pada pagi hari

Jawa Barat · 3 hari

Papandayan & Cipanas Garut

Pendakian keluarga pertama kami dengan formasi lengkap: dua orang tua, lima anak, satu carrier penuh camilan. Naik sampai Hutan Mati, turun ke kolam air panas.