Satu Hari Tanpa Sinyal
Hal pertama yang saya lakukan setelah turun dari perahu adalah memeriksa ponsel. Refleks, bukan kebutuhan. Layarnya menunjukkan tanda silang kecil di pojok, dan saya ingat sempat merasa sedikit panik.
Bagaimana kalau ada kabar penting dari rumah? Bagaimana kalau perahunya tidak kembali?
Suami saya sudah menyepakati jam jemput dan menyimpan nomor pemilik perahu. Semua sudah diurus. Kepanikan itu tidak berdasar pada apa pun kecuali kebiasaan.
Jam-jam pertama
Anak-anak sama sekali tidak terpengaruh. Mereka lari ke air dalam hitungan detik. Yang gelisah hanya orang dewasa.
Saya menghabiskan setengah jam pertama duduk di bawah pohon, memikirkan pesan yang mungkin masuk, sambil memandangi anak-anak yang sudah sepenuhnya berada di tempat itu — sementara saya, secara fisik, juga di sana.
Yang muncul setelah kebiasaan hilang
Sekitar tengah hari, sesuatu berubah. Saya berhenti mengecek.
Dan hal-hal kecil mulai terlihat lagi: bahwa Naila selalu memastikan Sakinah berada di antara dirinya dan pantai, bukan di sisi laut. Bahwa Hafiz berhenti membangun benteng ketika adiknya lelah, tanpa diminta. Bahwa Aisyah, yang di rumah sedang di usia tidak-mau-bicara, ternyata bisa bercerita panjang lebar kalau tidak ada yang bisa mengganggunya.
Percakapan sore itu — di bawah pohon, dengan pasir di mana-mana — adalah yang paling panjang yang pernah kami punya sebagai keluarga.
Yang saya bawa pulang
Saya tidak akan menulis bahwa teknologi itu buruk. Kami memesan penginapan lewat ponsel, mencari jadwal kereta lewat ponsel, dan foto-foto perjalanan ini juga tersimpan di sana.
Tapi saya belajar satu hal: perhatian saya ternyata terbagi jauh lebih sering daripada yang saya sadari, dan anak-anak merasakan itu meski tidak mengatakannya.
Sekarang, sekali sepekan, kami mencoba membuat sore tanpa sinyal di rumah sendiri. Ponsel diletakkan di satu kotak di ruang tamu, sampai magrib.
Belum sebagus Pulau Tabuhan. Tapi cukup untuk mengingatkan.