Belajar Berhenti Sebelum Puncak
Ada versi diri saya, sekitar sepuluh tahun lalu, yang tidak akan pernah setuju dengan keputusan itu. Versi yang berangkat sendirian, mengejar sunrise, dan mengukur keberhasilan sebuah pendakian dari satu hal saja: sampai puncak atau tidak.
Versi itu masih ada di dalam kepala. Ia yang berbisik, di Hutan Mati pagi itu, bahwa Tegal Alun tinggal empat puluh menit lagi. Bahwa sayang sekali sudah sejauh ini.
Tanda yang tidak boleh diabaikan
Zaid tidak menangis. Itu bagian yang membuatnya sulit dibaca. Ia hanya diam, berhenti bertanya, dan langkahnya berubah menjadi seretan pendek.
Anak yang mengeluh sebenarnya masih punya tenaga untuk mengeluh. Anak yang diam sudah tidak.
Kami duduk. Membuka bekal. Menghitung sisa air. Lalu memutuskan berbalik tanpa perdebatan panjang, karena sebenarnya tidak ada yang perlu diperdebatkan.
Yang berubah setelah keputusan itu
Yang menarik terjadi setelahnya. Aisyah, yang paling kecewa karena sudah membayangkan padang edelweis, adalah orang pertama yang menggandeng tangan adiknya di jalur turun. Hafiz menawarkan diri membawa botol Zaid.
Anak-anak tidak memandang keputusan itu sebagai kekalahan. Mereka memperlakukannya sebagai kabar biasa, dan langsung menyesuaikan diri.
Saya yang butuh waktu lebih lama.
Ukuran yang lebih masuk akal
Sekarang, ketika merencanakan perjalanan berikutnya, saya mencoba mengganti pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri.
Bukan lagi seberapa jauh kita bisa sampai, tapi:
- Apakah semua pulang dengan selamat?
- Apakah ada yang belajar sesuatu?
- Apakah anak-anak masih mau ikut lain kali?
Pertanyaan terakhir itu yang paling penting. Karena perjalanan yang memaksa hanya menghasilkan satu foto bagus dan satu anak yang menolak diajak lagi tahun depan.
Puncak akan tetap ada di sana. Anak-anak tidak akan tetap berumur segini.